Alasan Merokok yang Hina!TITIK

Posted: August 12, 2010 in Hobi dan Keseharian

Hina, menghina, terhina, dihina, penghinaan. Hina yang ada di kepalaku saat menulis ini adalah hina yang subyektif. Hina yang dibuat, dirumuskan, dan dituliskan secara sepihak tanpa konfirmasi ke pihak yang lain. Dalam keadaan stress dan masuk angin setelah perjalanan 5 jam menembus waktu dan bis yang penuh sesak dengan asapa rokok, bayi menangis dan kambing serta sayuran didalamnya.

Hina seperti ini sangat subyektif dan menyakitkan bagi sang obyek, dan bisa berbeda cerita kalau yang mendongeng adalah sang obyek. Seperti kisah Rahwana kera-buruk-rupa-hidung-belang yang hina bagi orang India, tapi pahlawan pelindung Shinta bagi orang Srilanka.
Kalau ada yang gak terima silahkan bikin definisi Hina sendiri. Bukankah itu indahnya menulis?
Hinanya Merokok

Begini nasib hinanya orang yang merokok dari sudut pandang orang yang stress dan masuk angin setelah perjalanan 5 jam menembus waktu walopun yang menulis ini adalah seorang perokok juga….hahhahaha…tapi ga apa apalah…

– Merokok untuk pergaulan?
Inspirasi setan darimana ini?(setan kebawa – bawa..) merokok untuk pergaulan? kalau tidak merokok dianggap bukan bagian dari pergaulan? Kasihan deh yang diterima oleh suatu pergaulan karena ‘rokok yang di hisap’, bukan karena merokok keinginan saya sendiri.

Padahal jika ini sekedar guyonan basa-basi, sebenernya kan dengan mudah bisa ditangkis dengnan guyonan yang tak kalah basi juga. “Sori man, habis makan burger king nih, sayang kalo aromanya hilang”. Jawaban ini mungkin akan menyelamatkan dari kehinaan. Dan sebagian yang lain semakin tersesat dalam perangkap komunitas penerima-penghisap-rokok. Sebagian besar dari mereka pandai bersilat lidah juga lho seperti saya…hahhaa…

Pesilat lidah yang anggun saat berkata-kata, tapi tiba-tiba menjadi hina saat mengemut benda bodoh berasap yang menyuntikkan racun di tengah kerumunan orang hamil (katanya sih, tapi saya gak peduli, kan saya lagi stress) ke dalam tubuhnya, menorehkan grafiti di pusat ilmu candu dalam otaknya, dan membakar sedikit duit yang kalau ditabung 1-2 tahun bisa buat beli BB atau ipod 3G tanpa harus nyicil.

– Merokok karena merasa culun?
Culun adalah sifat yang subyektif seperti halnya hina. Culun itu adalah pandang orang lain terhadap kita, atau pikiran yang ada di kepala kita yang menduga-duga bagaimana orang memandang kita.
Culun adalah persoalan percaya diri. Culun adalah persoalan gengsi.
Culun adalah turunan sifat purba pejantan/betina yang selalu ingin tampil cantik dan tampan (di permukaan) agar bisa mendapat pendamping (sex-partner), dan meneruskan keturunan. Tapi sekarang iklan rokok (dan semua iklan lain di TV) mendewakan culun ini untuk jualan.
Cowok usia tanggung (dalam hal umur maupun ketetapan hati) yang PENDEK dianggap culun, diketawain oleh teman2nya, sekumpulan cewek-cewek yang semua cakep dan tampak gaul.
Ya, Gaul adalah lawan kata yang -kurasa- cukup sepadan untuk culun. Ini adalah persoalan permukaan yang tipis, yang dalam 2-3 tahun akan terkelupas dengan sendirinya.

– Merokok untuk mengisi kebosanan
Wanjrit, ini alas an yang hina juga…ini jaman batu ya? ketika belum ada listrik, belum ada internet, belum ada HP?Sekarang hiburan ada dimana-mana, ipod dan tiruannya sudah bersuara sedemikian jernih menguraikan kode-kode digital menjadi alunan musik analog yang bisa dicerna kuping. Dicerna dengan nikmat.

Semua operator sibuk jualan pulsa murah, bahkan mengorbankan harga diri(yang dalam, bukan permukaan) dari pelanggan. Ada yang menyamakan pelanggan dengan monyet, kelelawar, pocong, bahkan manusia kawin dengan kambing.

Kebanyakan operator sudah mulai jualan internet, jualan bandwidth. Ini seharusnya cukup bagi kebanyakan manusia yang tinggal di perkotaan.

Catt: Tentang HP ini, apakah orang-orang masih ingat caranya janjian bertemu dengan seseorang sebelum ada HP? sebelum ada SMS?

– Merokok untuk menjaga lapangan kerja
Wah, ini jawaban putus asa yang keluar dari seorang perokok yang biasanya mungkin kurang terpelajar. Ataupun berpendidikan tinggi tapi hanya tahu kulit-kulit ilmunya saja. Dia pasti mendengarnya sekilas dari suatu seminar anti-rokok dan meng-echo-kannya setiap kali ada kesempatan. Meng-echo beda dengan membeo, Beo belajar beberapa lama sebelum berani mengucapkan kata “halo.. cewek…” yang datar. Echo adalah pantulan dari tebing-tebing yang bisu, gak punya hak suara.

Sejak kapan orang yang hanya peduli pada cekat tenggorokannya sendiri (sekaligus gak peduli pada organ tubuh yang lain), tiba-tiba peduli pada buruh-buruh pabrik yang bekerja belasan jam di jawa timur dengan gaji sedikit di atas UMR? Original dong! original!jangan jadi tebing bisu yang tidak punya hak suara.

Rokok memang menjadi sumber kehidupan banyak orang: petani, tengkulak tembakau, pemilik truk angkutan tembakau, penguji tembakau, buruh-buruh yang bekerja belasan jam di jawa timur dengan gaji sedikit diatas UMR (kata buruh berarti ada mandor, staf, bos muda, dan bos besar yang jarang muncul), lalu distributor rokok, pedagang grosir, pedagang asongan, juga dokter dan rumah sakit.

Jika dihitung-hitung bisa dapat jutaan orang yang menggantungkan hidup di awan-awan kepulan asap rokok. Sepertinya alasan merokok untuk menjaga lapangan kerja tidak terlalu bodoh juga ya.
Ah, tentu saja, karena semua terbuai dengan manis dan lembutnya aroma rokok itu, dan duit yang berkeliling di sekitarnya. Gak ada yang memikirkan adanya migrasi bertahap dari rokok ke industri lain (elektronika misalnya, jarum polytron) atau pengolahan mangga yang kalau lagi musim harganya turun drastis.

Busyet, Ngomong mah gampang! Talk is Cheap her! Talk is cheap! (terutama kalau sesama perokok).
Wah, susah juga ternyata ngomong di jaman reformasi, setiap perkataan kondisi ideal akan dihina (seperti definisi hina di atas) dan dicampakkan dengan cukup menyodorkan cermin.

Catt: Jika dipikir-pikir, pedangan asongan itu kan jualan rokok bercukai. Berarti dia sebenarnya agen pendapatan negara juga ya.

– Merokok agar bisa kerja
Inilah gambaran kaum pekerja keras di kota maupun di desa. Tangan kanan memegang alat kerja, tangan kiri memegang benda kerja.

Dalam radius 1 meter dari kepalanya pasti ada rokok. Entah tergeletak di sebelah kirinya (dalam jangkauan tangan kiri), terselip di telinganya, atau bahkan di mulutnya sudah mengemut benda berasap yang disebut rokok (katanya sih, tapi aku gak peduli, kan aku lagi stress) yang akan di emut ke dalam tubuhnya, menorehkan grafiti di pusat ilmu candu dalam otaknya, dan membakar sedikit duit yang kalau ditabung 1-2 tahun juga bisa buat beli BB atau ipod 3G tanpa harus nyicil.
Mereka ini gajinya sedikit di atas UMR. Tapi anggaran untuk merokok sudah sangat besar. Soalnya kalo gak merokok gak bisa kerja, mereka jadi harus merokok untuk tetap bekerja. Mereka harus tetap merokok untuk tetap gajian. Mereka harus tetap merokok agar tetap merokok.

Dan saat puasa, godaan merokok lebih kuat daripada rasa lapar. Sedangkan saat makan, mulut terasa pahit kalau tidak ditutup dengan rokok.
Seperti saya yang kebingungan saat gak ada rokok
– Merokok agar otak bisa mikir.
Dulu ada gurauan penting di saat kuliah. Sering aku ulang-ulang juga.
T: Kamu merokok gak?
J: Gak
T: Kamu Ngopi?
J: Gak
T: Lha terus kapan kamu belajar?
Seorang sahabatku, guruku, senseiku, yang jago bersilat lidah pernah berkata -kurang lebih-:
“Aku tahu rokok beresiko mengurangi umur. Tapi aku gak bisa mikir kalau gak merokok. Otak melayang kemana-mana tidak bisa dipadupadankan. Kalaupun umurku berkurang katakanlah 10 tahun gara-gara merokok, itu tidak apa-apa. Lebih baik aku berumur pendek tapi banyak berkarya daripada umur panjang tapi mati dengan tangan hampa”.

Gila, beliau tampak gagah saat mengucapkan kata-kata itu. Anggun berwibawa seperti seorang satria menularkan ilmu yang didapatnya dari lelaku 40-hari-40-malam di sebuah bukit angker.
Tapi sesaat kemudian, dia mengemut rokok di tengah kerumunan anak2 di bawah umur (katanya sih, tapi aku gak peduli, kan aku lagi stress) ke dalam tubuhnya, menorehkan grafiti di pusat ilmu candu dalam otaknya, dan membakar sedikit duit yang kalau ditabung 1-2 tahun juga bisa buat beli BB atau ipod 3G tanpa harus nyicil. Oh guruku, senseiku seketika tampak hina karena merokok di di tengah kerumunan anak2 di bawah umur

Hina yang aku hormati.
Sebenarnya kasihan betul guruku ini, beliau sudah terjebak dalam pusaran setan (tuh kan ada setan terlibat padahal dia ga tau apa2 soal ini…hahha…). Merokok sekedar iseng, merokok disaat senggang, racun kenikmatan nempel di pusat candu otak, gak bisa mikir kalo gak ngerokok.
Kasihan, tapi ya bagaimana lagi. Dia sudah terpenjara dengan alasannya itu. Otak yang seharusnya bebas berpikir saat ada rokok maupun tidak, tubuh harusnya bisa tidur nyenyak saat ada AC maupun tidak, makan harus tetap lahap saat tida ada atau saat ada MSG (butiran kecil artifisal penuh rasa yang aku yakin bisa menimbulkan kerusakan jangka panjang). Kalau tidak bisa berarti kita sudah mempersempit dunia kita sendiri, membuat batas-batas, membuat penjara.
Seperti halnya blogger yang seharunys tetep bisa menulis walaupun ada internet ataupun tidak. Blogger saat jadi fakir bandwidth maupun saat jadi juragan bandwidth.

Eh sebentar, terus kenapa berbulan-bulan saya gak update blog? Huss, gak pernah baca cerita misteri ya? Hal-hal seperti ini dibiarkan mengambang agar pembaca menerka2 sendiri.

-Merokok karena sudah kecanduan
Ini adalah posisi merokok yang paling mulia. Seseorang sudah bisa sedikit mulia ketika menyadari kesalahannya (hei tapi siapa yang bisa menjadi saringan benar dan salah disini?siapa?). Menyadari bahwa saya sudah terkutuk oleh racun nikotin, (sebenarnya ada macam2 nama2 mengerikan tapi kan aku gak boleh googling biar orisinil).
Mereka dengan alasan ini sudah berusaha meredam keinginan merokok, tapi racun sialan itu sudah membuat lukisan indah di dalam otak. Lukisan yang lebih dekat ke otak daripada tenggorokannya sendiri. Ya si hantu ini nempel di otak.

Maka ada yang menciptakan mainan yang mengurangi rasa kecanduan (yang bisa dimain2kan dengan ujung jari), ada metode pernafasan, ada permainan2 lucu, dan lain-lain. Mungkin kelihatan bodoh atau culun. Hei, tapi jika kita memang niat berhenti merokok, berarti siap menjadi manusia yang bisa menyaring (bukan mengabaikan) sikap orang lain terhadapmu. Menjadi manusia itu berat jalannya. Tapi terasa mudah saat sudah tercapai. Mandiri dan -mungkin- tidak tahu diri.
Kenapa tiba-tiba aku nulis begini, aku juga tak tahu (ingat kisah-kisah misteri?). Lagipula gak ada yang tanya, judul pake titik kok masih ada lanjutannya. Panjang pula. Dan menetapkan hati untuk tidak merokok di depan yang tidak seharusnya bukannya juga membuat batas diri?

Yang jelas sebulan terakhir aku mendengarkan lagunya Dream Theater – Stream of Unconciousness. Dan tulisan ini dibuat dalam keadaan stress dan masuk angin setelah perjalanan 5 jam menembus waktu dan didalam bis angutan antar kota yang begitu penuh sesak dengan berbagai macam aroma merek rokok dan mengabaikan bahwa disebelahnya ada perempuan hamil, anak kecil, bayi dan kakek nenek yang notabene untuk bernapas mereka harus beusaha keras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s