Buruh VS Pengusaha

Posted: August 12, 2010 in Idealisme dan Opini

Hampir mayoritas penduduk Jawa Barat katanya bekerja sebagai buruh, jalan – jalan sering kali mengalami kemacetan jika tiba waktunya para buruh selesai bekerja dan pulang ke rumahnya masing – masing. Istilah “buruh” sepertinya terkesan sangat rendahan (menurut penulis), mereka sepertinya tidak memiliki “bargaining position” dalam bekerja ; mungkin itu pula sebabnya ada yang namanya Serikat Buruh namun kebebasan buruh dalam berorganisasi ini pun sering kali dibatasi oleh yang namanya pengusaha melalui antek – antek yang berada di bawahnya, sebut saja misalnya General managernya atau kepala Divisinya, bukan tanpa bukti, salah satu perusahaan garment yang memproduksi Bad Cover di kota Bandung saya perhatikan melakukan hal tersebut.

Dengan di keluarkannya SKB 4 Menteri memberikan keleluasaan lebih bagi pengusaha untuk sewenang – wenang, MUNGKIN tidak semua pengusaha akan melakukan hal yang sewenang – wenang terhadap buruhnya namun perlu diingat bahwa pengusaha adalah orang/sekumpulan orang yang pintar dalam mencari, memprediksi dan memnfaatkan keuntungan yang sekiranya akan diperolehnya.

Jika ada yang mengatakan bahwa “jika perusahaan maju maka karyawannya akan sejahtera” mungkin kita harus berfikir kembali akan definisi sejahtera yang di maksud. Apakah maksudnya jika pengusaha telah memiliki 4 buah jaguar dan buruh memiliki 1 motor dapat disebut sejahtera?

Perusahaan yang saya sebutkan diatas sering kali menganggap bahwa perusahaan telah memperlakukan karyawannya dengan luar biasa dengan asusmis telah memberikan gaji, tunjangan, rekreasi dan lain sebagainya, mari kita perhitungkan saja satu persatu ; apakah jika seorang suami memberikan nafkah (uang, rumah, biaya makan, dll ) dapat dapat di katakan luar biasa? saya pikir tidak karena itu merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebagai seorang suami ataupun seorang pengusaha.

Disisi lain sepertinya buruh tidak di berikan hak – hak utama yang menjadi kebutuhan buruh, misalnya hak untuk bertanya, hak untuk mendapatkan jawaban yang manusiawi, hak untuk mendapatkan perlakuan yang tidak diskriminatif.

Yang menjadi pertanyaan lain adalah apakah penting memberlakukan orang – orang yang bekerja dalam sebuah perusahaan dengan menggunakan seragam yang berbeda?apakah itu tidak akan menimbulkan diskriminatif? apa signifikasnsinya terhadap kemajuan perekonomian negara dan buruhnya itu sendiri?. Menurut saya hematnya adalah pengusaha tidak memberlakukan hal tersebut kalo memang perlu dengan alasan yang rasional kenapa tidak membedakan saja dari jenis pakaiannya yang digunakan, misalnya buruh celana panjang, buruh lainnya menggunakan rok dengan warna yang sama, lebih manusiawi bukan?

Hal lain yang mencolok adalah menu makan siang yang luar biasa di bedakan baik makanannya maupun tempat makannya, seakan – akan buruh adalah ALIEN yang menjijikan, padahal jika diperhatikan lagi banyak diantara buruh yang bekerja mereka memiliki latar pendidikan yang cukup tinggi sedangkan buruh yang bekerja di balik meja juga ada yang pendidikannya dibawah buruh yang dianggap menjijikan tadi.

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kita semua adalah buruh – buruh negara, buruh keamanan, buruh bangunan, buruh rumah tangga, dan lain sebagainya, jangan pernah mau di manipulasi pikiran kita oleh yang namanya pengusaha asing melalui kebijakannya, jangan mau menjadi boneka yang mencederai sesama orang sebangsa dan senegara.

-Ki Gondrong-

Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s