Potret Kemerdekaan Bangsa Indonesia saat ini

Posted: August 27, 2010 in Histori dan jejak

Merdeka…..merdeka….merdeka!!!!!!!

Teriakan itu menjadi satu terikan yang akan sering kita dengar di saat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia seperti saat ini, ya, saat ini kita akan memperingati Hari Kemerdekaan  RI yang ke 65, walaupun tidak semeriah peringatan tahun – tahun sebelumnya, peringatan HUT RI kali ini bertepatan dengan Bulan Ramadhan, bulan yang suci dan penuh keberkahan bagi umat Islam sama hal ketika Proklamasi dikumandangkan untuk pertama kalinya Oleh Soekarno Hatta pada tahun 1945.

Karena peringatan HUT RI sekarang ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Idealnya masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam harus lah dapat memaknai arti sebuah kemerdekan, nasionalisme dan keberagaman sesuai dengan pundi – pundi serta nilai nilai yang diajarkan dalam Islam.

Nasionalisme menurut Kohn (1961:11) adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Secara etimologis, kata nation berasal dari kata bahasa Latin natio, yang berakar pada kata nascor ‘saya lahir’. Pada masa Kekaisaran Romawi, kata natio dipakai untuk mengolok-olok orang asing. Kemudian, pada masa Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas. Selanjutnya, pada masa Revolusi Perancis, Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale (Dewan Nasional) yang menunjuk kepada semua kelas yang memiliki hak sama dalam berpolitik. Akhirnya, kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara (Amir, 2004)

Apakah kita sudah benar benar merdeka dalam arti yang sesungguhnya dan sejauh mana nasionalisme kita?sebagai gambaran umum silahkan anda lihat beberapa foto slide yang saya tampilkan diatas, salah satunya ada foto generasi muda bangsa yang harus bekerja keras menjadi peminta minta karena sulitnya kondisi ekonomi di Negara kita saat ini, belum lagi kasus pahlawan yang tidak diperhatikan oleh pemerintah. Ambil salah satu contoh kasus penggusuran tempat tinggal para veteran oleh pemerintah karena lahan tempat tinggalnya akan dijadikan fasilitas lain dan akan digunakan oleh masyarakat yang sedang menikmati kemerdekaan hasil jerih payah para pahlawan yang digusur ini.

Atau mari kita lihat kasus lain ketika salah satu janda pahlawan yang harus di meja hijaukan karena mereke tersandung kasus sengketa tanah rumahnya dengan pemerintah. “Jadi apa sebenarnya arti kemerdekaan?” Itu lah mungkin sedang mereka pikirkan saat ini, walaupun sepertinya mereka tidak pernah mengeluh, jiwa kepahlawanannya masih terpatri dalam dirinya.

Mungkin peperangan senjata sudah tidak terjadi lagi di Negara ini, namun bagi beberapa masyarakat Indonesia, kemerdekaan yang sesungguhnya masih belum dirasakan begitu besar, kasus – kasu di atas hanya sedikit contoh fakta yang terjadi saat ini di Negara tercinta kita Indonesia yang kemudian secara tidak langsung hal tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi kadar nasionalisme masyarakat kita terhadap negaranya.

Pada masa Orde Baru, wacana nasionalisme perlahan-lahan tergeser dengan persoalan-persoalan modernisasi dan industrialisasi (pembangunan). Maka “nasionalisme ekonomi” pun muncul ke permukaan. Sementara arus globalisasi, seakan memudarkan pula batas-batas “kebangsaan”, kecuali dalam soal batas wilayah dan kedaulatan negara. Kita pun seakan menjadi warga dunia. Di samping itu, negara mengambil alih urusan nasionalisme, atas nama “kepentingan nasional” dan “demi stabilitas nasional” sehingga terjadilah apa yang disebut greedy state, negara betulbetul menguasai rakyat hingga memori kolektif masyarakat pun dicampuri negara. Maka inilah yang disebut “nasionalisme negara” (Abdullah, 2001: 37-39).

Tahun 1998 terjadi Reformasi yang memporakporandak-an stabilitas semu yang dibangun Orde Baru. Masa ini pun diikuti dengan masa krisis berkepanjangan hingga berganti empat orang presiden. Potret nasionalisme itu pun kemudian memudar. Banyak yang beranggapan bahwa nasionalisme sekarang ini semakin merosot, di tengah isu globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi yang semakin menggila.

Kasus Ambalat, beberapa waktu lalu, secara tiba-tiba menyeruakkan rasa nasionalisme kita, dengan menyerukan slogan-slogan “Ganyang Malaysia!”. Setahun terakhir ini, muncul lagi “nasionalisme” itu, ketika lagu “Rasa Sayangsayange” dan “Reog Ponorogo” diklaim sebagai budaya negeri jiran itu. Semangat “nasionalisme kultural dan politik” seakan muncul. Seluruh elemen masyarakat bersatu menghadapi “ancaman” dari luar. Namun anehnya, perasaan atau paham itu hanya muncul sesaat ketika peristiwa itu terjadi. Dalam kenyataannya kini, rasa “nasionalisme kultural dan politik” itu tidak ada dalam kehidupan keseharian kita.

Fenomena yang membelit kita berkisar seputar: Rakyat susah mencari keadilan di negerinya sendiri, korupsi yang merajalela mulai dari hulu sampai hilir di segala bidang, dan pemberantasan-nya yang tebang pilih, pelanggaran HAM yang tidak bisa diselesaikan, kemiskinan, ketidakmerataan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, tidak menghormati harkat dan martabat orang lain, suap-menyuap, dan lain-lain. Realita ini seakan menafikan cita-cita kebangsaan yang digaungkan seabad yang lalu. Itulah potret nasionalisme bangsa kita hari ini.

Pada akhirnya kita harus memutuskan rasa kebangsaan kita harus dibangkitkan kembali. Namun bukan nasionalisme dalam bentuk awalnya seabad yang lalu. Nasionalisme yang harus dibangkitkan kembali adalah nasionalisme yang diarahkan untuk mengatasi semua permasalahan di atas, bagaimana bisa bersikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korup, toleran, dan lain-lain. Bila tidak bisa, artinya kita tidak bisa lagi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara dari kehancuran total.

-Ki Gondrong-

Referensi :

Nina Herlina Lubis

Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s